Refleksi Tahun Kerahiman Allah:
Devosi Kerahiman Ilahi
PAUS Fransiskus menetapkan Tahun Kerahiman Allah dari tanggal 8 Desember 2015 – 20 November 2016. Pembukaan Tahun Kerahiman pada 08 Desember 2015 karena tanggal tersebut adalah Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa dan peringatan 50 tahun penutupan Konsili Vatikan II. Penutupannya pada tanggal 20 November 2016 karena tanggal itu merupakan Hari Raya Kristus Raja Semesta. Dalam penetapan Tahun Kerahiman Allah itu, Paus Fransiskus mengatakan bahwa Yesus merupakan ‘wajah’ belas kasihan Bapa-Nya.
Menjelang Tahun Kerahiman Allah itu, kita akan mendalami apa itu Devosi Kerahiman Ilahi dan terutama bagaimana mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. Devosi Kerahiman Ilahi ini didasarkan pada pesan-pesan Tuhan Yesus kepada Santa Faustina.
- Devosi Kerahiman Ilahi
Devosi Kerahiman Ilahi adalah devosi kepada cinta belas kasihan Allah yang tak terbatas kepada umat-Nya. Melalui devosi Kerahiman Ilahi itu, kita juga bersedia menjadi bejana-bejana kerahiman-Nya. Menjadi bejana kerahiman-Nya berarti bersedia untuk membiarkan belasih kasih-Nya mengalir melalui diri kita bagi orang-orang yang membutuhkannya.
Ada tiga tema dalam Devosi Kepada Kerahiman Ilahi, yaitu:
- a) Untuk meminta dan mendapatkan kerahiman Allah.
- b) Percaya kepada rahmat Kristus yang berlimpah.
- c) Untuk menunjukkan kerahiman kepada sesama dan bertindak sebagai saluran kemurahan Allah.
- Penghormatan Lukisan Kerahiman Ilahi
Devosi Kerahiman Ilahi tidak pernah dipisahkan dengan penghormatan kepada Lukisan Kerahiman Ilahi. Lukisan tersebut memancarkan Kerahiman Allah. Kerahiman Allah itu dilambangkan dengan dua sinar, yaitu warna merah dan warna pucat, yang memancar dari hati Tuhan Yesus. Kedua sinar itu melambangkan Darah dan Air:
- Sinar merah melambangkan Darah yang adalah hidup bagi jiwa-jiwa.
- Sinar pucat melambangkan Air yang menguduskan jiwa-jiwa.
Kerahiman Ilahi dibuka dengan tombak yang menusuk lambung Tuhan Yesus. Kerahiman Ilahi itu memancar dalam darah dan air Tuhan melalui lambung-Nya. Darah dan Air dari hati Tuhan Yesus itu memberi kehidupan kepada jiwa-jiwa karena jiwa-jiwa itu telah dikuduskanNya.
Rahmat belas kasih Allah itu berlimpah dan disediakan bagi jiwa-jiwa. Jiwa-jiwa dipanggil untuk terus menerus menimbanya. Timba dari sumur belas kasih Allah itu adalah Lukisan Kerahiman Ilahi dengan tulisan ‘Yesus, Engkau Andalanku’.
Kita yang memberi penghormatan terhadap Lukisan Kerahiman Ilahi berada dalam belas kasih-Nya di bumi dan khususnya saat ajal. *Yesus adalah Pembela kita dari tuduhan-tuduhan iblis: “Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil” (1 Yohanes 2:1).
Lukisan kerahiman Ilahi menjadi pengingat Tuhan untuk senantiasa menyalurkan belas kasih-Nya kepada umat manusia.
Kerahiman Ilahi dapat digambarkan bahwa Tuhan Yesus bagaikan Pemulung kita, yang seperti sampah karena dosa-dosa kita : “Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya” (Yeremia 18:4).
Tidak ada jiwa yang terlalu hancur untuk dapat dibentuk kembali oleh Allah.
- Jam Kerahiman Ilahi
Jam Kerahiman Ilahi adalah pukul tiga sore. Pada jam Kerahiman Ilahi itu kita berdoa dan memeditasikan sengsara Tuhan Yesus, khususnya saat Ia sendirian merenggang nyawa-Nya. Pada jam Kerahiman Ilahi ini kita diminta untuk berdoa memohon kemakuasaan-Nya bagi seluruh dunia, teristimewa bagi orang-orang berdosa yang malang. Pada saat itu belas kasih-Nya dibuka lebar bagi setiap jiwa. Kita yang berdoa pada jam Kerahiman Ilahi ini dapat memperoleh apa saja yang kita minta bagi diri sendiri dan bagi orang-orang lain; Pada jam Kerahiman Ilahi ini, kita mengakui Kerahiman Allah bagi seluruh dunia di mana belas kasih menang atas keadilan.
Sebagai pengingat jam Kerahiman Ilahi adalah pukul 3, 3 kata, 3 detik. *Pukul tiga* kita berdoa pada detik-detik wafat Tuhan Yesus Kristus. Kita meluangkan waktu tiga detik untuk mendoakan dengan hati *tiga kata*
“Yesus Engkau andalanku” atau “Aku Berharap PadaMu”.
Doa tiga kata ini bisa kita doakan ketika kita tidak mungkin mendoakan doa “Kerahiman Ilahi” secara lengkap. Doa yang singkat ini menjadi keselamatan kita dan banyak orang kelak.
Doa Jam Kerahiman Ilahi Lengkap:
Ya Yesus, Engkau telah wafat,
namun sumber kehidupan telah memancar bagi jiwa-jiwa
dan terbukalah lautan kerahiman bagi segenap dunia.
O, Sumber Kehidupan,
Kerahiman Ilahi yang terselami,
naungilah segenap dunia dan curahkanlah diri-Mu pada kami.
Doa Utama kepada Kerahiman Ilahi
Darah dan air, yang telah memancar dari hati Yesus sebagai sumber kerahiman bagi kami.
Engkaulah Andalanku!
Allah yang kudus,
kudus dan berkuasa,
kudus dan kekal,
kasihanilah kami dan seluruh dunia (3 kali)
Yesus, Raja Kerahiman Ilahi, Engkaulah andalanku.
Setelah mendoakan “Doa Jam Kerahiman Ilahi”, kita berdoa Jalan Salib. Dengan berdoa Jalan Salib, kita merenungkan perwujudan puncak cinta yang berbelaskasihan dari Tuhan. Ketika kita berhadapan dengan Salib, kasih kita terwujud dalam rasa belas kasih atau empati kepada Putra Bapa yang menderita.
Selain mengadakan Jalan Salib pada jam Kerahiman Ilahi, kita bisa juga melakukan sembah sujud di hadapan Sakramen Mahakudus (Adorasi) di kapela atau gereja. Dengan bersujud di hadapan Sakramen Mahakudus, kita bersyukur atas hati Tuhan Yesus yang berlimpah belas kasih.
Ketika kita tidak bisa berdoa Jalan Salib atau Adorasi di kapela atau gereja karena situasi yang tidak memungkinkan, kita tetap membenamkan diri dalam doa di mana pun kita berada walaupun hanya sesaat. Kita bisa menyanyikan atau menyenandungkan dalam hati lagu :
Mari kita merenungkan Yesus yang menjadi kurban karena cintakasih-Nya
Atau: “Karena Salib-Mu”
Hanya Kau Tuhan di hidupku
Kau berikan hidup yang baru
DarahMu menyucikan pulihkan hatiku
Kunyatakan Kaulah segalanya
Engkaulah sumber pengharapan
KuasaMu sanggup menyembuhkan
Jiwaku pun berserah hanya kepadaMu,
Yesus kaulah segalanya.
Reff
Karna salibMu ku hidup.
Karna salibMu ku menang
Engkau yang berkuasa
Sanggup tuk melakukan mujizatMu
Karna salibMu ku hidup
Karna salibMu ku menang
Engkau yang berkuasa
Sanggup tuk melakukan mujizatMu di hidupku
Lagu ini dapat menjadi meditasi yang mengesan atas sengsara Tuhan. Dengan mengulang-ngulang lagu ini di dalam hati, kita bisa *trenyuh*/tersentuh akan penderitaan Tuhan Yesus karena kasih-Nya yang besar kepada kita. Kalau kita tidak mungkin menyanyikan atau menyenandungkan lagu itu, kita bisa merenungkan Yesus yang ditinggalkan seorang diri saat meregang nyawa-Nya dengan mendaraskan suatu doa singkat seperti “Yesus, kasihanilah,” atau “Demi sengsara Yesus yang pedih, tunjukkanlah belas kasih-Mu kepada kami dan seluruh dunia.”
- Mewujudnyatakan Kerahiman Ilahi dalam Kehidupan
Devosi kepada Kerahiman Ilahi bukan sekedar doa, tetapi harus diwujudnyatakan dalam kehidupan sehari-hari. Ada sembilan hal perwujudan Devosi Kerahiman Ilahi :
- Kerahiman Ilahi Menjadi “The Way of Life”
Kerahiman Ilahi harus menjadi pegangan dan arah hidup kita. Identitas devosian Kerahiman Ilahi adalah hidup sepenuhnya dalam pimpinan Tuhan. Hidup dalam pimpinan Tuhan berarti *memiliki persatuan erat dengan Tuhan; mengikuti kehendak-Nya: “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri “(Yakobus 1:22); menyangkal diri, yaitu menolak dosa, meyakini Kerahiman-Nya; memuliakan Tuhan dan memberitakan –Nya; mengasihi siapa saja.*
- Berpikiran positif
Berpikiran positif berarti menutup mata, telinga, dan mulut terhadap hal-hal buruk. Dengan kata lain, berpikiran positif berarti tidak ada area gosip dalam hidup kita.
Dengan berpikiran positif, kita mampu mensyukuri semua peristiwa kehidupan dari sisi kebaikan. Dasarnya : Keagungan Allah. Keagungan Allah justru terletak pada usaha-Nya dalam mengubah kejahatan menjadi kebaikan.
- Memahami Visi dan Misi Devosi Kerahiman Ilahi
Visi: Rencana penyelamatan Tuhan terwujud. Penyelamatan Tuhan tewujud secara definitif pada kedatangan-Nya yang kedua dimana Ia mengalahkan kuasa kejahatan. Yang dipentingkan bukan kapan, tetapi apa yang harus kita lakukan dalam menyongsong kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang kedua itu.
Misi : Menyiapkan dunia bagi kedatangan Yesus yang kedua. Persiapan bagi kedatangan-Nya yang kedua adalah hidup seperti Bunda Maria. Hidup seperti Bunda Maria adalah hidup sunyi dan tersembunyi, tiada henti bersatu dengan Allah, berdoa bagi umat manusia.
Misi itu tercapai ketika kita benar-benar mengandalkan Tuhan dan penuh belas kasihan kepada sesama :“Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu” (Efesus 4:32).Karena itu, tujuan devosi kepada Kerahiman Ilahi adalah bukan mengubah Dunia, tetapi mengubah hati seturut Kerahiman Ilahi.
Salah satu misi devosian Kerahiman Ilahi adalah mendoakan tiga kelompok manusia yang memerlukan rahmat. Ketiga kelompok manusia itu adalah para pendosa, para imam dan para biarawan-biarawati, dan jiwa-jiwa di api penyucian.
- Sering Menyambut Komuni
- Mencintai Sakramen Tobat
Dasar Kitab Sucinya: Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan (Kisah Para Rasul 3:19). Disarankan bahwa Pengakuan Dosa dilakukan 4 x setahun/per tiga bulan.
- Merenungkan Sengsara Kristus dan “Memikul Salib”
Permenungan atas sengsara Kristus dan “memikul salib” itu menjadi sarana rahmat dan sukacita sejati: “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Matius 10:38-39)
- Setia Kepada Gereja Katolik
St. Faustina menulis (O Yesus), aku percaya akan semua kebenaran yang diajarkan oleh Gereja kudus-Mu untuk diimani.
- Devosi Kepada Bunda Maria
Devosi kepada Bunda Maria yang disarankan adalah tekun mendoakan “Doa Rosario” dan “Angelus”. Tujuan devosi kepada Bunda Maria adalah meneladani hidup Bunda Maria.
- Relasi baru dalam keluarga, komunitas, paroki
- Relasi baru itu nampak semakin mengandalkan Tuhan dan berbelaskasih dengan sesama.
- Tidak menonjolkan diri, melayani tanpa mengenal lelah, merukunkan umat, dan memancarkan kasih dan belas kasih.
- Jika kehadiran devosian Kerahiman Ilahi menjadi masalah dalam paroki, para devosian Kerahiman Ilahi segera mengadakan evaluasi dan refleksi untuk memperbaiki diri. Jika devosian Kerahiman Ilahi tetap terus menimbulkan probema dalam paroki, ia lebih baik tidak hadir dalam paroki (bdk Refleksi Kongres Kerahiman Ilahi. Hal. 31).
- Koronka
Perlu disadari bahwa Yesus sendiri tidak pernah minta supaya pada jam Kerahiman didaraskan Koronka.
- Koronka ditujuan kepada Allah Bapa. Koronka berkali-kali adalah doa yang sangat ampuh, justru karena dipanjatkan kepada Allah Bapa ”demi sengsara Yesus yang pedih”.
- Jam Kerahiman yang sepenuhnya berpusatkan pada permenungan tentang sengsara dan kerahiman Yesus selaku Putra Allah dan sekaligus Manusia.
- Doa Koronka dalam jam Kerahiman sebagai pemecahan praktis bagaimana mengisi doa setelah jam Kerahiman itu. Dasarnya adalah tidak ada doa yang membawa dosa.
- Koronka Kerahiman Ilahi teristimewa didoakan setelah mengikuti Misa Kudus karena Koronka merupakan kelanjutan doa permohonan dari Kurban Ekaristi.
- Kesimpulan
- Doa Jam Kerahiman adalah doa singkat dan sederhana yang dapat dilakukan siapa saja dan di mana saja. Bagi Tuhan Yesus doa singkat yang dilakukan dari hati lebih baik daripada doa yang panjang, tetapi tanpa penghayatan. Karena doa pada jam Kerahiman Ilahi ini adalah doa yang singkat dan dapat dilakukan di mana saja, devosi kepada Kerahiman Ilahi tidak ditujukan untuk membentuk komunitas sendiri (bahaya ekslusif) dalam paroki. Devosi kepada Kerahiman Ilahi seharusnya menjadi devosi pribadi di mana setiap pribadi menjadi bejana-bejana Kerahiman-Nya. Kerahiman Ilahi harus mendasari dan menjiwai setiap komunitas.
- Karena doa “Jam Kerahiman Ilahi” adalah permenungan atas sengsara Tuhan Yesus, seminar dan acara-acara tentangnya tidak boleh *glomour, *mahal, dan mewah karena mengkhianati “Sengsara Yesus yang pedih”.
Tuhan Memberkati
Bahan Bacaan
- KKI ST. Faustina Keuskupan Agung Jakarta. *Refleksi Kongres Kerahiman Ilahi*. Kanisius. Yogyakarta. 2014.
- Ceslaus, SVD. Rasul Kerahiman Ilahi. PT Kapasari, Sidoarjo, Jawa Timur. 2003.
Kredit foto: Ilustrasi (Ist)
![Foto: Bolehkah seseorang melakukan aborsi kalau suara hatinya mengizinkan hal itu?
Untuk menjawab pertanyaan ini akan sangat bermanfaat kalau pertama-tama kita melihatan AJARAN GEREJA ALLAH mengenai suara hati pada umumnya, untuk kemudian melihat bagaimana suara hati itu diterapkan dalam kasus ini.
Sekalipun hati nurani mengajak orang untuk berbuat baik dan menghindari yang jahat namun patut dipikirkan bagaimana seseorang tiba pada keputusan apa yang baik dan apa yang jahat itu.
Hati nurani memang selalu memanggil seseorang untuk menghindari yang buruk dan melakukan yang baik. Karena orang itu tidak waspada maka dia memberi informasi2 yang salah kepada hati nuraninya. Sehingga sang hati nurani menghasilkan keputusan yang keliru.
Ketika "reason" (alasan2 yang menjadi bahan pengambilan keputusan, berasal dari aneka informasi yang diterima dan terbentuk sekian waktu) keliru, maka "judgment"-nya (pengambilan keputusan) menjadi keliru sehingga suara hati memutuskan sesuatu dengan keliru.
Prudent (Keberhati-hatian; sebelum menegaskan sesuatu di dalam rasio dan mengambil keputusan untuk bertindak) yang terletak di mana kita harus selalu melatih diri untuk memperbaiki reason kita sehingga judgment (pengambilan keputusan) lebih akurat, sehingga suara hati pun tidak salah
Rasio tidak tunduk pada hati nurani seperti bagaimana jantung tidak tunduk kepada hati. Keduanya punya fungsi di mana tidak ada jenjang. Sampai di sini, renungkan, baca ulang perlahan. Renungkan ini secara perlahan-lahan
Referensi-referensi lain yang menegaskan ajaran Gereja bahwa Conscience (hati nurani) bisa salah:
1Kor 8:7-13
7 Tetapi bukan semua orang yang mempunyai pengetahuan itu. Ada orang, yang karena masih terus terikat pada berhala-berhala, makan daging itu sebagai daging persembahan berhala. Dan OLEH KARENA HATI NURANI MEREKA LEMAH, HATI NURANI MEREKA ITU DINODAI OLEHNYA.
Di sini ditunjukkan bagaimana suara hati seseorang bisa memberikan keputusan keliru bahwa memakan makanan yang dipersembahkan kepada berhala itu dosa. Padahal perbuatan tersebut tidaklah dosa. Petunjuk rasul Sto. Paulus ini juga diulangi lagi di 1Kor 10:25-31
1Kor 10:25 Kamu boleh makan segala sesuatu yang dijual di pasar daging, tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani. 26 Karena: "bumi serta segala isinya adalah milik Tuhan." 27 Kalau kamu diundang makan oleh seorang yang tidak percaya, dan undangan itu kamu terima, makanlah apa saja yang dihidangkan kepadamu, tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani. 28 Tetapi kalau seorang berkata kepadamu: "Itu persembahan berhala!" janganlah engkau memakannya, oleh karena dia yang mengatakan hal itu kepadamu dan karena keberatan-keberatan hati nurani. 29 Yang aku maksudkan dengan keberatan-keberatan bukanlah keberatan-keberata hati nuranimu sendiri, tetapi keberatan-keberatan hati nurani orang lain itu. Mungkin ada orang yang berkata: "Mengapa kebebasanku harus ditentukan oleh keberatan-keberatan hati nurani orang lain? 30 Kalau aku mengucap syukur atas apa yang aku turut memakannya, mengapa orang berkata jahat tentang aku karena makanan, yang atasnya aku mengucap syukur?" 31 Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.
Ibr. 9:6-10
6 Demikianlah caranya tempat yang kudus itu diatur. Maka imam-imam senantiasa masuk ke dalam kemah yang paling depan itu untuk melakukan ibadah mereka, 7 tetapi ke dalam kemah yang kedua hanya Imam Besar saja yang masuk sekali setahun, dan harus dengan darah yang ia persembahkan karena dirinya sendiri dan karena pelanggaran-pelanggaran, yang dibuat oleh umatnya dengan tidak sadar. 8 Dengan ini Roh Kudus menyatakan, bahwa jalan ke tempat yang kudus itu belum terbuka, selama kemah yang pertama itu masih ada. 9 Itu adalah kiasan masa sekarang. Sesuai dengan itu dipersembahkan korban dan persembahan YANG TIDAK DAPAT MENYEMPURNAKAN MEREKA YANG MEMPERSEMBAHKANNYA, ...
Ritual Perjanjian Lama tidak dapat menyempurnakan "conscience" dari para penyembah (ie. umat PL). Ini berarti bahwa "conscience" memang tidak sempurna dan harus disempurnakan. Apa yang tidak bisa salah tidak bisa tidak sempurna.
Kalau orang mengikuti "conscience"nya yang salah dengan tulus dan dia invincible ignorance < http://www.ekaristi.org/forum/viewtopic.php?t=2863&start=0&postdays=0&postorder=asc&highlight > atas kesalahan conscience-nya itu, maka dia tidak terkena dosa.
Dan dari ensiklik Pascendi oleh Pius X
["Therefore, to prohibit the consciences of individuals from expressing publicly and openly the impulses which they feel; to obstruct the way of criticism whereby it impels dogma in the path of necessary evolutions, is not the use but the abuse of the power permitted for the public weal."]
Terjemahan bebasnya:
Oleh karena itu, UNTUK MELARANG HATI NURANI individu-individu dari mengekspresikan secara publik dan terbuka dorongan yang mereka rasakan, dengan menghalang-halangi jalan di mana kritik itu diperlukan, bukan merupakan bentuk selain daripada penyalahgunaan kekuasaan yang diizinkan untuk kesejahteraan masyarakat.
Proposisi di atas adalah deskripsi paus Pius X atas kesalahan para modernist Katolikyang mengedapankan Conscience. Bahwa segala hal, asalkan sesuai dengan suara hati, tidak boleh dihalangi. Kecaman Pius X atas hal tersebut menunjukkan bahwa conscience bisa salah. Basically ini sama dengan Mirari Vos.
Dan dari Catholic Encyclopedia, mengenai Conscience: < http://www.newadvent.org/cathen/04268a.htm >
Even where due diligence is employed conscience will err sometimes,
" Bahkan saat di mana keberhati-hatian sudah dilaksanakan PUN, kadang-kadang hati nurani masih juga akan berbuat salah,..."
Sekali lagi apa yang baik dan apa yang buruk itu bisa keliru.
Ini karena seseorang bisa saja berkeputusan bahwa Euthanasia dan Aborsi itu baik padahal secara obyektif moral (di mana satu-satunya acuan moral yang absolut adalah Allah) Euthanasia dan Aborsi itu jahat.
Sehingga seseorang bisa melakukan euthanasia tanpa rasa bersalah karena memang suara hatinya mengatakan bahwa dia melakukan perbuatan kasih.
Alasan bahwa manusia harus selalu mengikuti kata hatinya adalah karena kata hati (ie. hati nurani) tersebut adalah penilai apakah sesuatu itu baik atau jahat.
Sebagai umpama, katakanlah ketika kita harus membuat keputusan untuk melakukan X atau Y. Nah, kemudian hati nurani kita menilai mana yang baik dan mana yang buruk. Kemudian keluar hasil bahwa yang baik adalah X dan yang buruk adalah Y. Tentunya kita wajib melakukan yang baik, kan? Karena kalau kita melakukan Y maka kita telah melakukan apa yang kamu pandang buruk.
Di sinilah kita bisa tahu kenapa kita harus mengikuti hati nurani. Karena kalau kita melawannya, maka kita melakukan apa yang menurut kita adalah buruk.
Hasil dari pemilihan X dan Y tersebut bersifat subyektif dan tidak obyektif. Jadi, mungkin secara obyektif yang buruk itu adalah X dan yang baik adalah Y. Namun kita kan tidak selalu mendapat informasi yang akurat untuk membuat keputusan. Karena itu bisa saja karena kurangnya informasi tersebut maka kita tiba pada keputusan yang salah bahwa X adalah baik (padahal secara obyektif buruk) dan Y adalah buruk (padahal secara obyektif baik).
Contoh lainnya: Yudi diberitahu temannya bahwa ujian nanti sifatnya open note. Karena itu Yudi siap dengan catatan-catatannya. Ketika ujian Yudi dengan enteng mengacu ke catatan-catatannya (katakanlah saja, untuk mempermudah ilustrasi, di kelas tidak ada teman atau pengawas yang kebetulan tahu akan perbuatan dia). Namun ternyata ujian itu tidak bersifat open note.
Si Yudi tentunya telah mencontek dengan nurani yang bersih. Nurani-nya tidak ada masalah dengan tindakan mencontek tersebut karena sepengetahuannya melihat catatan (ie. mencontek) diperbolehkan. Tentu saja kalau si Yudi menerima informasi yang lebih akurat, maka hati nuraninya akan mencegah perbuatannya tersebut dengan menginformasikan bahwa perbuatan tersebut adalah jahat. Tapi karena Yudi diberi informasi keliru maka nuraninya pun sama sekali tidak merasa bahwa perbuatannya itu keliru.
Inilah contoh bahwa hati nurani yang tulus pun bisa keliru. Contoh ini juga mengajarkan bahwa hati nurani tidak tak bisa salah dan bahwa hati nurani harus selalu diasah agar menghasilkan keputusan yang tepat.
Alasan mengapa hati nurani harus ditaati ada di paragraph 1790 dari Katekismus:
1790 Seorang manusia harus selalu mematuhi keputusan tertentu hati nuraninya. Jika dia sengaja bertindak melawannya, ia akanmengutuk dirinya sendiri. ...
Seperti yang sudah dikatakan di atas, suara hati memberitahu apakah sesuatu itu baik atau buruk. Nah, ketika suara hati memberitahu kita bahwa sesuatu itu buruk tapi kemudian kita melakukannya, maka secara sadar kita telah melakukan apa yang kita ketahui sebagai buruk, dan ini adalah jahat. Dan sebaliknya, ketika suara hati memberitahu kita bahwa sesuatu itu baik tapi kemudian kita menghindarinya, maka secara sadar kita telah menghindari apa yang kita tahu sebagai baik, dan ini disebut sin of omission atau "dosa tidak melakukan [yang baik]."
Suara hati sama sekali bukan suara Tuhan karena Tuhan tidak bisa "makes erroneous judgment" (membuat keputusan yang keliru) sedangkan hati nurani, seperti dijelaskan di paragraph 1790, bisa.
Kalau kita mengikuti suara hati yang menghasilkan keputusan yang keliru maka keputusan tersebut adalah keputusan yang TULUS TAPI KELIRU. Sama sekali bukan sesuatu yang baik. Kalau kita MEMANG TIDAK TAHU sehingga kita tulus, maka kita tidak bertanggungjawab (ie. tidak terkena dosa). meskipun demikian telah terjadi sesuatu yang buruk karena apa yang secara obyektif baik tidak dilakukan (atau apa yang secara obyektif buruk tidak dihindari).
Harus ditambahkan bahwa "jujur mengikuti suara hati [pun tidak menjamin bahwa akibatnya adalah baik]"
Perbuatan yang keliru, sekalipun dilakukan dengan tulus dan jujur, tetap saja keliru dan akan menimbulkan efek-efek negatif. Tentu efek-efek negatif itu tidak dapat dibebankan pada si pelaku, meskipun demikian efek-efek negatif itu timbul dan merusak.
Jika saya secara tulus meyakini bahwa masturbasi tdak berdosa. Kemudian seorang kawan bertanya kepada saya apakah masturbasi itu dosa. Dengan jujur dan tulus aku bilang ke dia bahwa masturbasi tidak dosa. Karena nasehatku ini dia jadi sering bermasturbasi dan mengajarkan ke orang lain bahwa mastursasi itu tidak dosa.
Nah, sekalipun aku dan si kawan tulus dan tidak bertanggungjawab atas meluasnya pendapat bahwa masturbasi itu bukan dosa, namun toh tetap saja tersebar pemahaman bahwa masturbasi itu tidak dosa. dan akan banyak orang bermasturbasi. Dan ini akan mengakibatkan efek negatif, misalnya gejala sosial dan perilaku seksual yang menyimpang.
Dari Katekismus:
I. SUARA HATI NURANI
1777 Hati nurani, yang merupakan bagian yang paling dalam dari hati seseorang, selalu mengajak/memerintahkan orang tsb untuk berbuat baik (kasih) dan menghindari perbuatan buruk (jahat). Apabila seseorang dihadapkan kepada beberapa pilihan tertentu, hati nurani memerintahkan/mengarahkan orang tsb untuk mengambil pilihan-pilihan yang baik (kasih) dan menolak pilihan-pilihan yang buruk (jahat). Hati nurani adalah saksi atas kehidupan seorang manusia dihadapan kebenaran tertinggi (Kristus), dan berkesesuaian dengan perintah-perintah(Nya). Apabila seseorang (mampu) mendengarkan suara hati nuraninya, maka orang (yang waspada) tsb akan mampu mendengarkan suara Tuhan.
1778 Hati nurani adalah keputusan akal budi, dimana manusia mengerti apakah satu perbuatan konkret yang ia rencanakan, sedang laksanakan, atau sudah laksanakan, baik atau buruk secara moral. Dalam segala sesuatu yang ia katakan atau lakukan, manusia berkewajiban mengikuti dengan saksama apa yang ia tahu, bahwa itu benar dan tepat. Oleh keputusan hati nurani manusia mendengar dan mengenal ketetapan ilahi.
Kalimat, "Hati nurani merupakan sebuah hukum Ilahi (divine law) di alam kesadaran seorang manusia;", harus berpatokan pada ayat di atas.
Diumpamakan bahwa hati nurani manusia adalah air putih. Lalu dicampur sirup (Roh), jadi manis. Tentu tanpa sirup, air putih rasanya tetap tawar, bukan rasanya manis.
Jelas, tanpa 'daya kerja' pengetahuan akalbudi, misalnya seseorang yang mengalami kecelakaan fatal akhirnya menjadi idiot, maka fungsi kerja hati nuraninya juga ngga jalan.
II. * Pembentukan Hati Nurani
1783 Hati nurani harus dibentuk dan keputusan moral harus diterangi. Hati nurani yang dibentuk baik dapat memutuskan secara tepat dan benar. Dalam keputusannya ia mengikuti akal budi dan berorientasi pada kebaikan yang benar, yang dikehendaki oleh kebijaksanaan Pencipta. Bagi kita manusia yang takluk kepada pengaruh-pengaruh buruk dan selalu digoda untuk mendahulukan kepentingan sendiri dan menolak ajaran pimpinan Gereja, pembentukan hati nurani itu mutlak perlu.
1784 PEMBENTUKAN HATI NURANI ADALAH TUGAS SEUMUR HIDUP. Sudah sejak tahun-tahun pertama ia membimbing seorang anak untuk mengerti dan menghayati hokum batin yang ditangkap oleh hati nurani. Satu, pendidikan yang bijaksana mendorong menuju sikap yang berorientasi pada kebajikan. Ia memberi perlindungan terhadap dan membebaskan dari perasaan takut, dari ingat diri dan kesombongan, dari perasaan bersalah yang palsu, dan rasa puas dengan diri sendiri, yang semuanya dapat timbul oleh kelemahan dan kesalahan manusia. Pembentukan hati nurani menjamin kebebasan dan mengantar menuju kedamaian hati.
1785 DALAM PEMBENTUKAN HATI NURANI, SABDA ALLAH ADALAH TERANG DI JALAN KITA. Dalam iman dan doa kita harus menjadikannya milik kita dan melaksanakannya. Kita juga harus MENGUJI HATI NURANI KITA DENGAN MEMANDANG KE SALIB TUHAN. Sementara itu kita dibantu oleh ANUGRAH ROH KUDUS dan kesaksian serta nasihat orang lain dan dibimbing oleh ajaran pimpinan Gereja1
Sampai di sini semogalah menjadi cukup jelas bahwa hati nurani kita perlu dibentuk dengan kebenaran sejati yang HANYA ADA dari dalam pengajaran Gereja Katolik yang kudus melalui Magisterium Gereja Katolik dan Sri Paus penerus Petrus di mana dipercayakan penggembalaan semua domba-domba milik Kristus [sampai 3x]. (Yoh 21:15-17)
+++
"Si Deus pro nobis, quis contra nos?" -- "Bila Tuhan beserta kita, siapa yang berani melawan kita?"
*) Kutipan dari Kitab Suci Perjanjian Baru, Surat Rasul Paulus kepada Umat di Roma 8:31.
[+In Cruce Salus, Pada Salib Ada Keselamatan. ~Thomas A Kempis, 'De Imitatione Christi', II, 2, 2]
*) Credit to DeusVult, Evangelos.](https://fbcdn-sphotos-h-a.akamaihd.net/hphotos-ak-xpa1/t1.0-9/s526x296/1531881_10152224587089895_8751259408976271355_n.jpg)














